(dan) Manusia Merencanakan, Allah Menentukan

Kemarin siang berchating ria dengan teman semasa kuliah d3 dulu. Ngobrol ngalor ngidul, dari A sampai Z kembali ke A lagi, haha hihi melepas kangen mencoba memotong jarak ratusan kilometer yang terbentang di antara kami. Lalu muncullah topik itu, yang membuat obrolan kami terasa jadi lebih serius dan bermakna *halah*. Buktinya tiba-tiba malam ini saya teringat kembali dengan perbincangan kemarin.

Awalnya kami membicarakan tentang penghujung tahun. Lalu tentang resolusi tahunan yang -mungkin- pernah kami buat di awal tahun. Lalu pertanyaan yang mengikutinya, “bagaimana resolusi yang kamu buat di tahun ini? berapa persen target yang tercapai?” Hyak desh! Saya yakin kami sama-sama sedang berhitung dan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi selama setahun ini. Lalu chating itupun berjeda beberapa saat.

Flashback.
Saya memulai 2011 dengan pindah domisili ke Tangerang dan menjalani rutinitas menjadi mamasiswa. Kuliah, wara wiri rumah-kampus, sambil momong tentunya dan tetap berusaha menjadi istri yang baik idaman suami, sambil juga meneruskan berjualan online. Ada  rencana-rencana besar yang saya dan pak suami diskusikan hampir setahun lalu. Ada target-target yang hendak dicapai pada tahun ini. Tidak begitu banyak memang, namun rencana-rencana itu cukup membuat semangat dan antusiasme kami menjadi lebih hidup.

Lalu, apa tercapai? Sebagian iya. Tapi sebagian lainnya, ternyata belum. Ternyata rencana-rencana itu belum bisa direalisasikan di tahun ini. Tidak, tidak akan saya katakan kenapa atau mencari penyebabnya.  Hanya yang ingin saya catat dan ingat, ada banyak hal-hal lain yang terjadi di luar rencana-rencana yang kami buat.  Hal-hal lain yang ternyata membuat rencana-rencana kami dulu terasa lebih lengkap. Iya, benar. Lebih lengkap. Sedang memikirkan, bahwa sejauh ini skenario Allah selalu yang terbaik. Benar pada awalnya, saat memainkan skenario tersebut saya pernah bertanya, ‘mengapa begini ya Allah?”. Ternyata saat ini, saya mendadak sok bijak paham mengapa Allah membuat skenario yang berbeda dengan rencana-rencana kami. Ada hal-hal positif lain yang berusaha Allah tunjukkan dengan skenarioNya.

Maka izinkan saya berucap, alhamdulillah.
Benar saat dikatakan manusia merencanakan, Allah menentukan.
Dan Allah memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Dan selalu, skenario Allah  menjadi skenario terbaik.

-13.12.2011 01.07, menjelang dinihari-


About these ads

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s